Mendikbud: Sekolah yang Siap UN Berbasis Komputer Masih di Bawah 1 Persen
8 April 2015 1354 Views

Mendikbud: Sekolah yang Siap UN Berbasis Komputer Masih di Bawah 1 Persen

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan bahwa sekolah yang siap menggelar ujian nasional (UN) berbasis computer atau Computer Based Test(CBT) masih di bawah satu persen. Dari 70.000 lebih sekolah, kata dia, baru 585 sekolah yang dinyatakan siap menerapkan UN CBT.

“Setelah kami cek di lapangan kesiapan fasilitas, guru, siswa yang dinyatakan siap itu 585 sekolah. Jadi hanya di tempat yang dia siap sebagai uji coba itu kira-kira di bawah satu persen. Dari 70.000 lebih sekolah yang menggelar UN, itu enggak sampai 600 yang siap uji coba,” kata Anies di Istana Wakil Presiden Jakarta, Rabu (8/4/2015).

Menurut Anies, ada kurang lebih 720 sekolah yang mengajukan diri untuk melaksanakan UN berbasis komputer. Kemendikbud kemudian melakukan pengecekan kesiapan masing-masing sekolah. Pengecekan dilakukan di antaranya dengan menghitung ketersediaan komputer di sekolah tersebut. Suatu sekolah dinyatakan siap menggelar UN berbasis komputer jika rasio perbandingan jumlah komputer dengan siswanya adalah 1 : 3.

“Jadi sekolah itu rasio komputernya satu komputer untuk tiga siswa. Jadi kalau satu angkatan di satu sekolah ada 100 siswa, berarti minimal ada 35 komputer. Kalau ada lebih, maka bisa kita kerjakan,” ujar Anies.

Di samping itu, sekolah yang ingin menerapkan UN berbasis komputer harus memiliki jaringan internal yang menghubungkan komputer-komputer dengan server. Belum lagi ketersediaan operator jaringan di sekolah yang juga harus diuji terlebih dulu kemampuannya.

“Kemudian diuji sistemnya, jalan dengan baik apa tidak, skilloperator network bisa mengelola dengan baik apa tidak. Setelah diverifikasi, terpilih 585, yang ajukan 720 lebih,” tutur Anies.

Ia juga menyampaikan bahwa UN berbasis komputer akan membawa keuntungan tersendiri, di antaranya efisiensi waktu dan biaya. Di samping itu, lanjut Anies, pelaksanaan UN pun bisa lebih akurat.

“Anak-anak kemarin itu uji coba menghemat 30 menit dibandingkan menggunakan kertas karena mereka tidak harus melingkari. Jika mereka break, waktunya enggak hilang. Jadi mereka break, ya pause saja, waktunya muter lagi, dan kalau pun ada masalah, misal listrik mati atau komputer hang, yang sudah dikerjakan akan tersimpan, tidak hilang, ketika dia nyala lagi, dia mulai lagi yang belum dikerjakan,” kata Anies.

Previous Ujian nasional Pro-Siswa
Next Mengenal kepribadian

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply